BREAKING
Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan

TIBA-TIBA SAKIT TANPA SEBAB


Shahih Fiqih:
📎 TIBA-TIBA SAKIT TANPA SEBAB

🔴 Saudaraku perkah engkau temui berita tentang keracunan masal? Padahal malam hari makanan baru dimasak segar dan bersih dengan porsi besar untuk dihidangkan pada acara pagi harinya..

🔴 Pernahkah pula engkau mendengar seorang yang sehat dan bugar yang sangat jarang sekali sakit, tiba-tiba mendadak sakit parah? Dan itu diketahui tatkala setelah cek lab medis, bahkan terkadang ada yang tidak terdeteksi secara medis..


Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah sampaikan suatu hadits pada kita..

فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةٌ يَنـْزِلُ فِيْهَا وَبَاءٌ لاَ يَمُرُّ بِإِناَءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلاَّ نَزَلَ فَيْهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ .

“Sesungguhnya dalam satu tahun terdapat satu malam yang turun pada malam itu wabah penyakit. Tidaklah wabah itu melewati bejana yang tidak ditutup atau wadah air yang tidak diikat, melainkan wabah itu akan turun padanya." (HR. Bukhari, 3/1195, 3106)


🔴 Bisa jadi itulah diantara sebabnya yaitu lupa/enggan menutup gelas minuman ataupun makanan kita di suatu malam (dimana bertepatan dengan turunnya wabah) tersebut.. Oleh karenanya Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda :

وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ

“Tutuplah pintu-pintu serta tutuplah bejana serta wadah-wadah makan dan minum kalian." (HR. Bukhori 5624)


وَأَوْكُوا الْأَسْقِيَةَ وَخَمِّرُوا الطَّعَامَ وَالشَّرَابَ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهِ بِعُودٍ

“Tutuplah bejana serta tempat makan dan minum, walaupun hanya engkau taruh sepotong kayu di atasnya." (HR. Ahmad 14597)


👤 Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :  "Perintah Nabi Shallallahu alaihi wasallam untuk menutup bejana ini bertujuan untuk memperoleh keselamatan dari gangguan setan. Allah Ta'ala menjadikan hal itu sebagai sebab terhindarnya seorang hamba dari gangguannya, karena setan tidak bisa membuka bejana, jika sebab yang disebutkan tadi (dengan menyebut nama Allah) dilakukan." (Syarah Shahih Muslim, 13/185)


Tutuplah makan dan minummu.. jika tak engkau jumpai satu tutup pun untuk menutup, maka tutuplah dengan ranting/pen/pensil dan sebutlah nama Allah saat menutupnya..

Semoga Allah menjaga kita dalam kebaikan dan kesehatan..

___________

✍ Penyusun | Abdullah bin Suyitno (عبدالله بن صيتن)

Bimbingan Belajar
www.rumahbelajarsukses.blogspot.com
Jalan Pondok Pinang 3 No 29 Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 021 29044776

Dibalik Kehebatan Salam


Salah satu bukti keindahan dan kemuliaan Islam ialah adanya ajaran tegur sapa. Dengan tegur sapa, hidup terasa senang, karena relasi antarsesama terjalin intim. Perhatikan, fenomena konflik di masyarakat sesungguhnya kerap mengemuka akibat minim tegur sapa.
Sekiranya setiap pihak mau membudayakan tegur sapa dan tidak suka merasa paling benar, persoalan yang muncul tidak akan melebar ke mana-mana. Purbasangka berbalut sikap enggan bertegur sapa itulah yang meletupkan percikan api amarah menjadi bara perseteruan dan dendam. Dengan membiasakan salam atau tegur sapa niscaya membawa kedamaian dihati, ketenangan hidup, dan terjalin ukhuwah, itulah kehebatan salam.

Islam mengajarkan budaya tegur sapa dengan ucapan salam, assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu. Ucapan ini memang tampak sepele dan tidak dipungut biaya, tetapi nilainya sungguh luar biasa. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk kecintaan adalah menebarkan salam antarsesama Muslim.” [HR Muslim].

Mengucapkan salam, mengacu pada hadis di atas, boleh dikata merupakan perwujudan iman. Atau, dengan kalimat lain, ucapan salam itu budaya orang beriman, dan memang hanya orang berimanlah yang akan mampu membudayakan salam sebagai upaya menghidupkan sunnah Rasulullah. Perintah mengucapkan salam tidak berlaku kepada dan bagi selain orang beriman.

Ucapan salam juga memiliki dampak sosiologis luar biasa dahsyat. Salam yang diucapkan secara tulus dapat melahirkan sikap kekitaan dan kebersamaan. Inilah benih-benih kekuatan antarsaudara seiman itu. Sebab, menurut sebagian ulama, kalimat “as-salam” adalah salah satu nama Allah, sehingga kalimat “Assalamualaikum” berarti Allah bersamamu atau engkau dalam penjagaan Allah. Sebagian ulama lain mengartikan “as-salam” sebagai keselamatan, sehingga kalimat “Assalamualaikum” bermakna semoga keselamatan selalu menyertaimu. Kedua pemaknaan itu, jika digabungkan, akan berbunyi semoga Allah senantiasa bersamamu sehingga keselamatan terus menyertaimu.

Era modern ditandai dengan teknologi serba canggih. Aneka perangkat digital bermunculan, seperti Facebook, Email, Twitter, Skype, Instagram, WhatsApp, Talk, Line, Yahoo Messenger, Camfrog, Viber, Tango, Telepon, SMS, dan BlackBerry Messenger. Sejumlah perangkat modern itu sangat prospektif untuk membangun kekitaan dan kebersamaan dengan saling menebarkan salam. Sayang, kerap muncul kreativitas dari orang-orang modern untuk menyingkat kalimat salam yang mulia itu menjadi “Askum”, “Kumlam”, “Lekum”, “Asw”, “Aslm”, dan semisalnya.

Yang paling sering adalah “Ass”. Kalimat ini umumnya disampaikan lewat sms atau pesan di media jejaring sosial di internet. Maksudnya tentu untuk mempermudah penyampaian pesan. Tetapi, tanpa disadari, penyingkatan semacam itu justru berakibat penodaan terhadap ucapan salam yang sejatinya bermakna doa itu. Kalimat “Ass”, misalnya, dalam kamus bahasa Inggris ternyata berarti keledai, orang yang bodoh, pantat. Pasti pemberi salam tidak bermaksud mendoakan lawan bicara dengan kata-kata buruk itu. Namun, apa susahnya mengucapkan salam sebagaimana ajaran Rasulullah.

Kalau alasannya malas, alangkah lebih baik kalau cukup mengucapkan “Halo”, “Hai”, “Apa kabar”, dan semisalnya. Kalau alasannya kalimat salam itu terlalu panjang, cobalah simak hadis dari Imran bin Hushain berikut. Dikisahkan, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan mengucapkan, “Assalamualaikum”. Setelah menjawab, Rasulullah bersabda, “Sepuluh”. Tidak lama, datang lagi orang kedua, yang memberikan salam, “Assalamualaikum wa rahmatullahi”. Setelah dijawab oleh Rasulullah, beliau pun bersabda, “Dua puluh”. Kemudian datang orang ketiga dan mengucapkan, “Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu”. Rasulullah menjawab, lantas bersabda, “Tiga puluh”. [HR Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi].

Terang sudah jawaban soal keluhan seputar panjangnya ucapan salam. Hadis itu sekaligus menjadi panduan bagaimana menyingkat salam yang mendapat garansi dari Rasulullah. Tiga pilihan itu, semuanya berpahala, sesuai tingkat kesempurnan ucapannya. Lain dari tiga pilihan yang disebutkan dalam hadis itu, jelas tertolak.

Lantas, siapa yang dianjurkan memulai salam? Kata Rasulullah, hendaklah yang lebih muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua, yang lewat memberikan salam kepada yang duduk, yang sedikit mengucapkan salam kepada yang banyak, dan yang di atas kendaraan mengucapkan salam kepada yang berjalan. Jika orang-orang yang diutamakan untuk memulai salam itu tidak melakukannya, gugurkah anjuran salam atas mereka yang seharusnya berstatus penerima salam? Jawabnya, tentu tidak. Islam tetap menganjurkan umatnya untuk mengucapkan salam kepada orang lain, misalnya, yang lebih tua kepada yang lebih muda atau pejalan kaki kepada pengendara. Sabda beliau, “Yang lebih utama dari keduanya adalah yang memulai salam.” [HR Bukhari dan Muslim].

Perintah mengucapkan salam bahkan berlaku ketika bertemu saudara sesama Muslim yang tidak kita kenal. Abdullah bin Amr bin Ash pernah berkisah, ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, “Islam bagaimana yang bagus?” Beliau lantas menjawab, “Engkau memberikan makanan (kepada orang yang membutuhkan), mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.” [HR Bukhari dan Muslim].

Luar biasa dibalik kehebatan salam. Ajaran Islam sungguh tidak melulu urusan ritual, tetapi juga menyangkut tata kehidupan sosial. Penting juga dicatat, hukum mengucapkan salam kepada orang lain memang sunnah, tetapi menjawabnya adalah wajib. Al-Qur’an tegas menyatakan, “Jika kamu diberi salam/penghormatan, maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” [QS An-Nisa/4: 86].

Saatnya kita budayakan ucapan salam sebagai ciri khas tata pergaulan orang beriman. Semoga kita senantiasa dilimpahi karunia dan maunah untuk dapat meniti hidup di atas rel sunnah.



Di Balik Sebuah Kesederhanaan


Suatu ketika sahabat Umar meminta izin untuk menemui Rasulullah SAW. Setelah diijinkan beliau segera saja masuk ke dalam bilik kecil yang ditempati oleh Rasulullah SAW. Kaget bukan kepalang dengan apa yang dilihatnya. Bola matanya tidak setuju dengan pemandangan di depannya, tapi ini kenyataan. Hatinya bergejolak tak karuan. Berbagai perasaan berpadu dalam kalbu. Sedih, iba, bangga, tak tahulah apa nama perasaan itu. Ia mendapati beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Bukan hanya tikar kasar, tapi juga kecil. Sangking kecilnya tikar kasar yang beliau kenakan, sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantalkan pelepah kurma yang keras, hingga bekas-bekas guratan terlukis tak beraturan di pipi putih Rasulullah SAW.

Sesaat suasana hening. Sahabat Umar mengambil posisi duduk di dekat Rasulullah SAW. Setetes air bening menyembul keluar dari sudut matanya, turun setapak demi setapak, melewati gundukan kecil, menyusuri lembah halus di pipinya, dan akhirnya jatuh membasahi bumi. Satu tetes, diikuti tetesan-tetesan yang lain, hingga puluhan tetes telah melewati gundukan kecil dan lembah halus di pipinya. Sahabat nabi yang terkenal garang itu terisak. Ia yang dikenal dengan watak kerasnya, tak mampu menahan lelahan air mata yang mendesak sekuat tenaga.

Melihat sahabat setianya berlinangan air mata, Rasulullah SAW pun bertanya, ”Mengapa engkau menangis wahai Umar?”

”Bagaimana aku tidak menangis…” Mengambil nafas. “Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuhmu. Padahal engkau Nabi Allah dan kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Sedangkan Kaisar Romawi duduk di singgasana emas dan berbantalkan sutera.” Jawab umar panjang lebar sambil menahan gejolak di hatinya.

Dengan lembut Nabi saw bertutur kepadanya, ”Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga. Sebuah kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir.”

Dulu, 14 abad yang lalu, manusia mulia yang terpilih menjadi Rasul akhir zaman telah memberi tauladan kepada umatnya untuk berlaku sederhana. Padahal, dulu Rasulullah SAW mampu untuk menggenggam dunia. Beliau sanggup untuk hidup dengan kemewahan dan dikelilingi harta, tapi bukan itu pilihan nabi akhir zaman ini. Beliau saw lebih memilih hidup dengan kesederhanaannya. Ya, sederhana dan apa adanya. Tidak foya-foya sok kaya, tidak berlebih-lebihan sok berlebih hartanya, dan tidak pula bergaya sok paling punya.

Kini saya melihat seorang Office Boy (OB) di pelataran Masjidil Haram, Mekah yang sedang melakukan aktifitas rutinnya membersihkan sampah-sampah disekeliling masjid. Ketika suasana hiruk pikuk Masjidil Haram detik-detik menjelang berbuka puasa, saya berdiri santai sambil memandang petugas masjid lainnya yang sedang menyiapkan tempat dan membagikan tajil untuk berbuka puasa. Badu namanya (tengah, berbaju biru) adalah seorang OB memanggil saya untuk duduk bersama dan dia langsung menyiapkan makanan berbuka. Tanpa perhitungan dan basa-basi, dia mengeluarkan seluruh makanan jatahnya kepada saya dan orang lain di sebelahnya. Sungguh tanpa saya duga, padahal sebelumnya saya telah mendapatkan jatah tajil dari petugas lain, namun Pak Badu langsung menggelar tikar plastik mengajak saya untuk berbuka puasa bersama. 

Suasana yang bercampur baur penuh keharuan melihat Pak Badu yang sederhana, seorang pekerja (tenaga kerja muslim India), namun memiliki hati yang bersahabat dan senang berbagi tanpa melihat latar belakang seseorang.

Sederhana, pasti banyak yang suka. Sederhana, pasti banyak yang cinta. Sederhana, pasti banyak yang bangga. Bukan hanya makhluk bernama manusia yang suka dengan pribadi sederhana, tapi Allah pun turut mencintai manusia yang berperilaku sederhana.

Ibnu Abbas pernah menuturkan, suatu ketika datang seseorang menghadap kepada Rasulullah SAW dan berkata: ya Rasulallah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang apabila aku kerjakan, maka aku dicintai Allah dan manusia? Beliau menjawab:

اِزْهَدْ فِي الدُّنْياَ يُحِبُّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْماَ عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ الناَّسُ

“Berlakulah zuhud dalam urusan dunia niscaya kamu akan dicintai Allah, dan zuhudlah kamu terhadap apa yang dimiliki orang lain niscaya kamu akan dicintai orang-orang.” (HR. Ibnu Majah)

 
Copyright © 2013 Ucu Suratman News
Design by FBTemplates | BTT