Salah satu bukti keindahan dan kemuliaan Islam ialah adanya
ajaran tegur sapa. Dengan tegur sapa, hidup terasa senang, karena relasi
antarsesama terjalin intim. Perhatikan, fenomena konflik di masyarakat
sesungguhnya kerap mengemuka akibat minim tegur sapa.
Sekiranya setiap pihak mau
membudayakan tegur sapa dan tidak suka merasa paling benar, persoalan yang
muncul tidak akan melebar ke mana-mana. Purbasangka berbalut sikap enggan
bertegur sapa itulah yang meletupkan percikan api amarah menjadi bara perseteruan
dan dendam. Dengan membiasakan salam atau tegur sapa niscaya membawa kedamaian
dihati, ketenangan hidup, dan terjalin ukhuwah, itulah kehebatan salam.
Islam mengajarkan budaya tegur sapa dengan ucapan salam, assalamualaikum wa
rahmatullahi wa barakatuhu. Ucapan ini memang tampak sepele dan tidak dipungut
biaya, tetapi nilainya sungguh luar biasa. Dalam sebuah hadis, Rasulullah
bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidak
dikatakan beriman sebelum kalian saling mencintai. Salah satu bentuk kecintaan
adalah menebarkan salam antarsesama Muslim.” [HR Muslim].
Mengucapkan salam, mengacu pada hadis di atas, boleh dikata merupakan
perwujudan iman. Atau, dengan kalimat lain, ucapan salam itu budaya orang
beriman, dan memang hanya orang berimanlah yang akan mampu membudayakan salam
sebagai upaya menghidupkan sunnah Rasulullah. Perintah mengucapkan salam tidak
berlaku kepada dan bagi selain orang beriman.
Ucapan salam juga memiliki dampak sosiologis luar biasa dahsyat. Salam yang
diucapkan secara tulus dapat melahirkan sikap kekitaan dan kebersamaan. Inilah
benih-benih kekuatan antarsaudara seiman itu. Sebab, menurut sebagian ulama,
kalimat “as-salam” adalah salah satu nama Allah, sehingga kalimat
“Assalamualaikum” berarti Allah bersamamu atau engkau dalam penjagaan Allah.
Sebagian ulama lain mengartikan “as-salam” sebagai keselamatan, sehingga
kalimat “Assalamualaikum” bermakna semoga keselamatan selalu menyertaimu. Kedua
pemaknaan itu, jika digabungkan, akan berbunyi semoga Allah senantiasa
bersamamu sehingga keselamatan terus menyertaimu.
Era modern ditandai dengan teknologi serba canggih. Aneka perangkat digital
bermunculan, seperti Facebook, Email, Twitter, Skype, Instagram, WhatsApp,
Talk, Line, Yahoo Messenger, Camfrog, Viber, Tango, Telepon, SMS, dan
BlackBerry Messenger. Sejumlah perangkat modern itu sangat prospektif untuk
membangun kekitaan dan kebersamaan dengan saling menebarkan salam. Sayang,
kerap muncul kreativitas dari orang-orang modern untuk menyingkat kalimat salam
yang mulia itu menjadi “Askum”, “Kumlam”, “Lekum”, “Asw”, “Aslm”, dan
semisalnya.
Yang paling sering adalah “Ass”. Kalimat ini umumnya disampaikan lewat sms atau
pesan di media jejaring sosial di internet. Maksudnya tentu untuk mempermudah
penyampaian pesan. Tetapi, tanpa disadari, penyingkatan semacam itu justru
berakibat penodaan terhadap ucapan salam yang sejatinya bermakna doa itu. Kalimat
“Ass”, misalnya, dalam kamus bahasa Inggris ternyata berarti keledai, orang
yang bodoh, pantat. Pasti pemberi salam tidak bermaksud mendoakan lawan bicara
dengan kata-kata buruk itu. Namun, apa susahnya mengucapkan salam sebagaimana
ajaran Rasulullah.
Kalau alasannya malas, alangkah lebih baik kalau cukup mengucapkan “Halo”,
“Hai”, “Apa kabar”, dan semisalnya. Kalau alasannya kalimat salam itu terlalu
panjang, cobalah simak hadis dari Imran bin Hushain berikut. Dikisahkan,
seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan mengucapkan, “Assalamualaikum”.
Setelah menjawab, Rasulullah bersabda, “Sepuluh”. Tidak lama, datang lagi orang
kedua, yang memberikan salam, “Assalamualaikum wa rahmatullahi”. Setelah
dijawab oleh Rasulullah, beliau pun bersabda, “Dua puluh”. Kemudian datang
orang ketiga dan mengucapkan, “Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu”.
Rasulullah menjawab, lantas bersabda, “Tiga puluh”. [HR Bukhari, Abu Dawud,
Tirmidzi].
Terang sudah jawaban soal keluhan seputar panjangnya ucapan salam. Hadis itu
sekaligus menjadi panduan bagaimana menyingkat salam yang mendapat garansi dari
Rasulullah. Tiga pilihan itu, semuanya berpahala, sesuai tingkat kesempurnan
ucapannya. Lain dari tiga pilihan yang disebutkan dalam hadis itu, jelas
tertolak.
Lantas, siapa yang dianjurkan memulai salam? Kata Rasulullah, hendaklah yang
lebih muda mengucapkan salam kepada yang lebih tua, yang lewat memberikan salam
kepada yang duduk, yang sedikit mengucapkan salam kepada yang banyak, dan yang
di atas kendaraan mengucapkan salam kepada yang berjalan. Jika orang-orang yang
diutamakan untuk memulai salam itu tidak melakukannya, gugurkah anjuran salam
atas mereka yang seharusnya berstatus penerima salam? Jawabnya, tentu tidak.
Islam tetap menganjurkan umatnya untuk mengucapkan salam kepada orang lain,
misalnya, yang lebih tua kepada yang lebih muda atau pejalan kaki kepada
pengendara. Sabda beliau, “Yang lebih utama dari keduanya adalah yang memulai
salam.” [HR Bukhari dan Muslim].
Perintah mengucapkan salam bahkan berlaku ketika bertemu saudara sesama Muslim
yang tidak kita kenal. Abdullah bin Amr bin Ash pernah berkisah, ada seorang
laki-laki bertanya kepada Nabi, “Islam bagaimana yang bagus?” Beliau lantas
menjawab, “Engkau memberikan makanan (kepada orang yang membutuhkan),
mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal.”
[HR Bukhari dan Muslim].
Luar biasa dibalik kehebatan salam. Ajaran Islam sungguh tidak melulu urusan
ritual, tetapi juga menyangkut tata kehidupan sosial. Penting juga dicatat,
hukum mengucapkan salam kepada orang lain memang sunnah, tetapi menjawabnya
adalah wajib. Al-Qur’an tegas menyatakan, “Jika kamu diberi salam/penghormatan,
maka balaslah dengan yang lebih baik atau balaslah dengan yang serupa.” [QS
An-Nisa/4: 86].
Saatnya kita budayakan ucapan salam sebagai ciri khas tata pergaulan orang
beriman. Semoga kita senantiasa dilimpahi karunia dan maunah untuk dapat meniti
hidup di atas rel sunnah.